0
(Kanggo versi bahasa Sunda tiasa di tingali didieu)

Ketika bertanya kepada panday atau penjual bedog (golok) apa saja nama bilah bedog? maka terdengarlah nama-nama bilah bedog yang terasa puitis atau barangkali eksotis, sesuatu yang agak lain. Karena yang diberi nama adalah bedog. Padahal bedog adalah senjata tajam, barangkali pantasnya diberi nama yang membuat orang bergidik, umpamanya samber nyawa atau begal pati atau nama lain sejenis itu. Bedog adalah senjata sekaligus juga alat. Pada sebagian orang Sunda ada yang membedakan antara golok dan bedog. Golok lebih cenderung sebagai pakarang, sesuatu senjata yang dipusakakan, sedangkan bedog lebih cenderung sebagai parabot, alat untuk pekerjaan, terutama untuk pekerjaan di kebun. Walaupun bentuknya secara garis besar hampir sama.

Nama bilah bedog ada yang berdasarkan bentuk seperti bedog gayot, ujung turun, bedog betekok, jambe sapasi, gula sabeulah, bisa juga berdasarkan jenis pekerjaan seperti bedog sadap, pameuncitan (menyembelih hewan), pamoroan (berburu), pamilikan (pekerjaan membuat bilik, dinding anyaman bambu), cacag daging disebut juga bedog soto malah ada nama bedog hanya karena bentuk sarangka dan perah seperti bedog kuda laut atau bedog arwana, karena bentuk perah dan sarangka dibentuk seperti kuda laut atau seperti ikan arwana.. Disamping nama tersebut ada juga nama bedog yang dianggap klasik, seperti hambalan ,sintung bening, sonten bening (khusus di Cibatu Cisaat Sukabumi), kembang kacang, malapah gedang, paut nyere (ada juga yang memberi nama besot nyere atau besot hinis), paut sintung, simeut pelem, janur, salam nunggal dan mungkin masih ada nama lain.

Dari nama bedog yang klasik itu ada yang berkaitan dengan pohon kelapa, disitu ada sebutan nyere (lidi), sintung dan janur. Ada sumber yang mengatakan bahwa pohon kelapa adalah pohon hayat atau pohon kehidupan, karena hampir semua bagian dari pohon ini berguna untuk kehidupan disamping itu dipakai pula sebagai simbol tertentu dalam kehidupan ritual orang Sunda. Misalnya kelapa yang masih sangat muda, biasa disebut cengkir, suka dipakai sebagai salah satu keperluan untuk upacara tujuh bulan kehamilan. Cengkir diberi gambar wayang Arjuna atau Sumbadra, menghaarapkan apabila bayi yang dikandung adalah lak-laki akan mempunyai jiwa ksatria seperti Arjuna, apabila perempuan diharapkan akan seperti Sumbadra.

Nyere, sintung dan janur berada di bagian atas dari pohon kelapa, itu adalah bagian yang tertutup yang melambangkan dunia perempuan, sedangkan batang adalah bagian yang terbuka melambangkan dunia laki-laki.

Kegunaan nyere dalam kehidupan sehari-hari biasa dibuat sapu lidi atau dibuat seumat bila dipotong kecil-kecil secara menyerong dan bisa dibuat sebagai tusuk sate. Semuanya cenderung untuk pekerjaan perempuan. Sintung adalah kelopak besar yang membungkus suligar atau bunga kelapa. Janur adalah daun kelapa yang masih muda. Hal inipun masih berkaitan erat dengan dunia perempuan.

Nama bilah bedog yang lain adalah kembang kacang dan malapah gedang, menurut Jakob Sumardjo (Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda, 2003) tumbuhan kacang-kacangan adalah simbol perempuan. Sedangkan malapah gedang adalah peniruan akan bentuk pelepah daun pepaya dan malapah gedang juga merupakan sebuah peribahasa Sunda yang artinya dalam mengutarakan maksud tidak langsung tetapi memberikan penjelasan terlebih dahulu. Makna lain dari palapah gedang adalah simbol laki-laki sekaligus perempuan, tiada bedanya dengan umbi-umbian yang mempunyai simbol laki-laki sekaligus perempuan seperti yang dikatakan Jakob Sumardjo dalam salah satu artikelnya.

Bedog satu sisi sebagai simbol kejantanan, simbol laki-laki. Di sisi lain ada kecenderungan keperempuanan (feminim) melalui penamaan bilah bedog. Nampaknya hal ini bukan sesuatu yang tidak disengaja, tetapi hasil sebuah pemaknaan dari latar budaya masyarakatnya. Itulah paradok yang menghasilkan keharmonisan. Mengingat perempuan didalam masyarakat Sunda mempunyai posisi yang sangat terhormat. Kaum perempuan ditempatkan sebagai pelindung sekaligus pengasuh yang memandu anak-anaknya. Karena itu pula, kaum perempuan tidak hanya disebut “ibu”, tetapi lebih dari itu mereka disebut “indung”. Indung berarti tidak hanya perempuan yang telah mengandung dan melahirkan kita. Indung juga sekaligus memiliki makna tempat berlindung. Dengan demikian posisi perempuan lebih dilihat sebagai sumber kebijaksanaan, bukan dilihat dari sisi erotisnya. Hal inipun tergambar didalam ceritera lisan Sunda yaitu pantun ada tokoh perempuan, Sunan Ambu, yang mempunyai posisi sangat terhormat, malah dianggap sebagai ibu keilahian.

Maka pada saat seorang laki-laki nyoren bedog, membawa bedog dengan diikatkan ke pinggang, sebenarnya dia sedang ditemani oleh sang indung yang memberikan pengarahan bahwa hidup itu harus asak jeujeuhan, matang berpikir matang bertindak, untuk itu menggunakan bedog tidak boleh sembarangan. Pemakaian bedog sebagai pakarang untuk bela diri, dipergunakan dalam situasi mendesak, sebagai upaya untuk menghalau pengganggu. Pemakaian bedog sebagai parabot yang dipergunakan untuk keperluan di kebun umpamanya, tidak diperkenankan sembarangan memotong tumbuhan, sebagai upaya menjaga lingkungan hidup.

Sejalan dengan itu, melalui perbincangan dengan beberapa sumber sesama peminat bedog, didalam membawa bedog terkuak istilah batur keueung dan istilah batur ludeung. Batur disini lebih ke berarti sebagai teman bukan batur yang berarti sebagai orang lain. Sedangkan keueung adalah suatu situasi kakhawatiran yang belum tentu penyebabnya, mungkin karena sendirian di gelapnya malam, mungkin karena situasi genting (werit). Ludeung adalah berani, tentunya akan semakin menimbulkan kepercayaan diri yang tinggi apabila ada teman yang mendampingi. Didalam situasi ini kehadiran bedog lebih cenderung sebagai batur pakumaha, teman berbagi masalah, semacam upaya dialog batin dalam menimbang situasi untuk mengatasinya. Disinilah bedog sebagai sang indung, yang memberikan nilai kebijaksanaan dalam tindak laku, bukan sebagai teman yang mendorong ke kesembongan yang mengarah ke ngalajur nafsu. Ada yang berpendapat penempatan bedog sebagai batur keueung lebih tepat sebagai implementasi dari sikap defensif, sedangkan pada batur ludeung lebih ke bersifat ofensif. Penempatan bedog sebagai batur keueung ataupun sebagai batur ludeung, itu sebagai pengakuan bahwa keberanian sejati adalah keberanian dari diri sendiri, bukan bersandar kepada orang lain. Ketajaman mata bedog akan terasa bermanfaat melalui penguasaan diri dan perilaku bijak.

Itulah bedog, melalui bedog setidaknya dapat menemukan tapak lacak para karuhun, yang memberikan kesempatan untuk mengarungi kearifan lokal. Berikanlah ruang pada bedog dengan bentuk dan tajamnya sebagai benda budaya, biarkan beriringan dengan benda budaya lainnya sebagai anak jaman.

Copyright © Tatar Pasundan

Posting Komentar

 
Top